Kota Malang – Kenaikan biaya transportasi dalam beberapa waktu terakhir mulai memberikan dampak signifikan terhadap bisnis industri perunggasan, khususnya dalam distribusi produk unggas seperti daging ayam dan telur. Kondisi ini turut menjadi perhatian akademisi, termasuk di lingkungan Program Studi Bisnis Industri Perunggasan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Sebagai komoditas yang bersifat mudah rusak (perishable), produk unggas membutuhkan distribusi yang cepat, tepat, dan efisien. Namun, meningkatnya biaya bahan bakar serta operasional kendaraan membuat ongkos pengiriman dari peternak ke pasar mengalami kenaikan. Hal ini berdampak langsung pada harga jual produk di tingkat konsumen.
Dari sudut pandang ekonomi, kenaikan biaya transportasi memicu efek berantai dalam rantai pasok industri perunggasan. Tidak hanya biaya distribusi hasil produksi, tetapi juga biaya pengadaan pakan yang ikut terdampak. Akibatnya, pelaku usaha harus menyesuaikan strategi agar tetap mampu menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan harga jual.
Perbedaan lokasi produksi dan pasar juga memperbesar dampak tersebut. Wilayah yang jauh dari sentra peternakan cenderung mengalami harga produk unggas yang lebih tinggi, sehingga berpotensi memengaruhi stabilitas konsumsi masyarakat.
Di sisi lain, pelaku usaha perunggasan di lapangan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Kenaikan biaya distribusi membuat margin keuntungan semakin menipis. Beberapa peternak dan distributor mulai melakukan berbagai upaya efisiensi, seperti mengatur ulang jalur distribusi, mengurangi biaya operasional, hingga menjalin kerja sama langsung dengan konsumen atau pelaku pasar untuk mempersingkat rantai distribusi.
“Kalau biaya transportasi naik, dampaknya terasa ke semua lini, dari pakan sampai penjualan di pasar,” ujar salah satu pelaku usaha perunggasan di wilayah Malang.
Fenomena ini juga menjadi bahan kajian penting di lingkungan akademik, khususnya di Program Studi Bisnis Industri Perunggasan UMM. Melalui pendekatan pembelajaran berbasis industri, mahasiswa diajak untuk memahami secara langsung bagaimana dinamika biaya logistik memengaruhi keberlangsungan bisnis perunggasan.
Ketua Program Studi Bisnis Industri Perunggasan UMM menyampaikan bahwa kondisi ini menjadi peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan solusi inovatif. “Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga dituntut mampu merancang strategi bisnis yang adaptif, terutama dalam menghadapi kenaikan biaya distribusi seperti saat ini,” ujarnya.
Berbagai upaya dilakukan oleh prodi, mulai dari penelitian terkait efisiensi rantai pasok, pengembangan model distribusi yang lebih efektif, hingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk membantu pelaku usaha meningkatkan manajemen bisnis mereka.
Ke depan, efisiensi distribusi dipandang sebagai salah satu kunci utama dalam menjaga stabilitas industri perunggasan. Kolaborasi antara akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah diharapkan mampu menghasilkan solusi yang tidak hanya jangka pendek, tetapi juga berkelanjutan.
Dengan dukungan sumber daya manusia yang kompeten dan inovatif dari Prodi Bisnis Industri Perunggasan UMM, industri perunggasan diharapkan tetap mampu bertahan dan berkembang di tengah berbagai tantangan, sekaligus terus menjadi penopang utama konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia.
