Kota Malang – Perkembangan teknologi dalam industri perunggasan terus menunjukkan dampak positif, khususnya dalam meningkatkan efisiensi budidaya unggas. Berbagai inovasi mulai diterapkan oleh pelaku usaha untuk mengoptimalkan produksi serta menjaga kualitas hasil ternak.
Salah satu teknologi yang banyak digunakan adalah sistem kandang tertutup (closed house) yang memungkinkan peternak mengontrol suhu, kelembapan, dan sirkulasi udara secara otomatis. Selain itu, penggunaan alat pemberian pakan dan minum otomatis juga membantu meningkatkan konsistensi pertumbuhan ayam.
Dari sisi industri, penerapan teknologi ini dinilai mampu menekan risiko kerugian akibat perubahan cuaca dan serangan penyakit. Dengan sistem yang lebih terkontrol, produktivitas ternak dapat meningkat secara signifikan, sekaligus menjaga kualitas produk yang dihasilkan.
Namun, implementasi teknologi tidak terlepas dari tantangan. Biaya investasi awal yang cukup besar serta keterbatasan pengetahuan teknis menjadi kendala bagi sebagian peternak, khususnya pada skala kecil dan menengah.
Fenomena ini menjadi perhatian di lingkungan Program Studi Bisnis Industri Perunggasan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui pembelajaran berbasis industri, mahasiswa diajak untuk memahami bagaimana teknologi dapat menjadi solusi dalam meningkatkan efisiensi usaha.
Mahasiswa tidak hanya mempelajari aspek teknis, tetapi juga melakukan analisis bisnis terkait penerapan teknologi, seperti perhitungan biaya investasi dan potensi keuntungan jangka panjang. Dengan demikian, lulusan diharapkan mampu menjadi pelaku usaha yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
“Kami mendorong mahasiswa untuk tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya sebagai strategi bisnis,” ujar salah satu dosen Prodi BIP UMM.
Ke depan, teknologi diperkirakan akan menjadi faktor utama dalam meningkatkan daya saing industri perunggasan, sehingga transformasi menuju sistem yang lebih modern menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari.
