Kota Malang – Kenaikan biaya transportasi yang berdampak pada harga produk unggas tidak hanya menjadi perhatian pelaku industri, tetapi juga memicu respons dari kalangan akademisi, khususnya mahasiswa Program Studi Bisnis Industri Perunggasan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Sebagai sektor yang bergantung pada distribusi cepat dan efisien, industri perunggasan menghadapi tantangan serius ketika biaya logistik meningkat. Produk seperti daging ayam dan telur yang harus segera sampai ke pasar dalam kondisi segar membuat biaya transportasi menjadi komponen krusial dalam penentuan harga.
Menanggapi kondisi tersebut, mahasiswa Prodi Bisnis Industri Perunggasan UMM mulai mengkaji berbagai solusi inovatif dalam sistem distribusi. Melalui pembelajaran berbasis kasus nyata, mereka didorong untuk menganalisis dampak kenaikan biaya transportasi terhadap rantai pasok serta merancang strategi yang lebih efisien.
Salah satu pendekatan yang mulai dikembangkan adalah optimalisasi jalur distribusi dan pemanfaatan teknologi digital dalam pemasaran. Dengan mempersingkat rantai distribusi, produk unggas dapat langsung dipasarkan kepada konsumen atau pelaku usaha tanpa melalui terlalu banyak perantara, sehingga biaya dapat ditekan.
“Kalau distribusinya bisa dipersingkat, biaya bisa ditekan dan harga di konsumen juga lebih stabil,” ujar salah satu mahasiswa BIP UMM dalam kegiatan diskusi kelas.
Selain itu, mahasiswa juga mengembangkan ide bisnis berbasis kemitraan antara peternak dan konsumen, seperti sistem pre-order atau penjualan langsung berbasis komunitas. Model ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan pada distribusi konvensional yang memakan biaya lebih besar.
Dari sisi akademik, dosen Prodi BIP UMM turut mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu memberikan solusi yang aplikatif. Kegiatan seperti studi lapang, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk terjun langsung melihat kondisi industri perunggasan di lapangan.
Kenaikan biaya transportasi yang awalnya menjadi tantangan, kini justru dimanfaatkan sebagai peluang pembelajaran dan inovasi. Mahasiswa dilatih untuk berpikir kritis dan adaptif dalam menghadapi perubahan kondisi industri.
Di sisi lain, pelaku usaha perunggasan di wilayah Malang juga mulai merasakan manfaat dari pendekatan yang lebih inovatif, terutama dalam hal efisiensi distribusi dan strategi pemasaran. Kolaborasi antara mahasiswa dan pelaku usaha diharapkan dapat menciptakan solusi yang saling menguntungkan.
Dengan pendekatan yang lebih kreatif dan berbasis solusi, Prodi Bisnis Industri Perunggasan UMM tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai motor penggerak inovasi dalam industri perunggasan.
Ke depan, lulusan dari prodi ini diharapkan mampu menjadi pelaku usaha maupun profesional yang tidak hanya memahami proses produksi, tetapi juga mampu mengelola bisnis secara menyeluruh, termasuk dalam menghadapi tantangan seperti kenaikan biaya transportasi.
